Selasa, 21 April 2015

Melatih Anak Belajar Menerima dan Bersyukur

Beberapa waktu lalu Alhamdulillah suami dapat rizki, anak-anak dapat bonus masing-masing. Adek dapat mainan edu. Abang dapat lego.

Seperti biasa, aku selalu bilang ke Mas Aim, agar semakin shaleh dan jangan lupa bersyukur. Itu rizki dari Allah...

Aku dan suami tidak pernah memberikan sesuatu tanpa syarat. Seperti kali ini juga sama. Sudah otomatis pula Mas Aim selalu bilang, "Ini hadiah untuk apa Bu?"

"Untuk Mas karena sudah sholeh shalatnya....atau sudah mau jagain Adek....dll", jawabku.

Pokoknya gak asal dapet hadiah gitu Bun.

Kalau lagi gak ada uang, kita cukup bilang, "Mas...bapak lagi gak ada rizki...."

Alhamdulillah Mas Aim cepat mengerti.

Aku selalu ajak Mas Aim berbagi cerita tentang nrimo dan bersyukur. Aku kasih contoh anak-anak jalanan yang hidup di pinggir-pinggir jalan. Kepanasan....kehujanan.... "Kasihan gak Mas...." Dengan wajah sedih Mas Aim menjawab, "Iya ya Bu kasihan banget mereka."

"Nah berarti Mas harus bersyukur dengan kehidupan kita sekarang. Walau rumah kita begini, kita jauh lebih nyaman daripada mereka Mas. Gak kehujanan, gak kepanasan....."

Kalau ke toko, wajarlah namanya anak-anak setiap mata memandang pastilah mainan yang diincar. Sebelumnya aku buat perjanjian dulu dengan Mas Aim. "Mas....ibu gak bawa uang banyak jadi Mas gak usah beli mainan ya....kan di rumah udah banyak mainan ntar mundak rumah kita gak muat (hehe...)". Alhamdulillah ketika di toko Mas Aim selalu bilang begini, "Aku cuma liaatt aj kok Bu....". Kadang mungkin sebagian orang berpikir, kasihan amat tuh anak emaknya pelit banget hehe. Tapi Bun justru disinilah pentingnya melatih anak agar hidup disiplin dan bertanggungjawab, gak semaunya sendiri. Kalau gak, ujung-ujungnya kita yang repot Bun.... Makanya anak perlu dilatih untuk belajar menerima dan bersyukur....

Kadang Mas Aim suka bertanya, "Bu aku pengin naik pesawat kayak Bapak....". Sambil nyambi-nyambi gawean rumah aku jawab begini, "Amiin...ibu doain Mas cepet gede trus kerja jadi bisa naik pesawat kayak Bapak...". Naik pesawat kan mahal, gak mungkin to kita kabulkan begitu saja. Kebetulan suami kadang ada kerjaan kantor ke Jakarta...atau ke Bogor...naik pesawat, dibiayai kantor tentunya. Kita suka jemput di bandara. Gak heran kalo lama-lama Mas Aim pingin juga naik pesawat. Nah itu, aku jadikan contoh untuk Mas Aim agar dia semangat kayak bapaknya. Dengan harapan Mas tumbuh jadi anak yang mudah dikondisikan, gak merengek kalo minta sesuatu. Karena untuk mendapatkan sesuatu itu harus dengan usaha.

Mudah-mudahan Mas Aim jadi termotivasi untuk berusaha. Dengan cara menerima dan bersyukur ya Mas.... Amiin.

2 komentar:

  1. Waaah... Blog yang keren, artikel yang keren. Iya bu, urusan muslim ada dua, sabar dan syukur. Tulisannya bagus euy. Salam buat anak-anak yaa..

    BalasHapus
  2. mksh bgt udh mampir baning...ini masih baru ning masih jauuuuhhhh dr kata keren hehe doakan good mood trs y...
    sabar...syukur....in sya allah
    salam jg buat adek kembarmu ning...

    BalasHapus